Kisah Seorang Yang Diadili Allah di Hari Kiamat...

Sekedar jadi wawasan bagi kita masing-masing bahwasanya trick hisab (pertanggungjawaban amal) di hri kiamat nanti bakal berbeda-beda kepada masing-masing individu. Elemen ini dipengaruhi oleh seberapa akbar amal kebaikan yg diperbuat individu tersebut selagi di dunia. Karenanya dalam praktek hisab tersebut ada yg ringan, berat, & ada yg diproses dengan cara sukar atapun gampang. Dikala prosesi sudah dilakukan, ada yg berkesudahan bersama pujian & ada pun yg berhenti dgn hukuman.

ilustrasi
Lantaran sbg media laksanakan perhitungan sekaligus pertanggungjawaban bakal semua aksi diwaktu hidup di dunia, sehingga hisab ini berlaku bagi seluruhnya makhluk yg muslim ataupun yg kafir. Dgn begitu, semua makhluk yg diperintah buat beribadah pada Allah, ialah manusia & jin diproses dengan cara adil. Tapi begitu, ada pengecualian kepada proses ini, adalah layaknya sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa ada golongan manusia & jin yg dibebaskan dari hisab, merupakan anak-anak & orang gila (orang tak berakal).

Diriwayatkan Ali radiyallahu 'anhu bahwa dirinya menceritakan dia sedang duduk dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terhadap satu buah waktu. Kala itu Rasulullah sedang menceritakan berkenaan Bani Israil & umat terdahulu. Terhadap akhir ceritanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : "Wahai Ali! Allah mengutus malaikat Jibril buat menceritakan faktor umatku. Katanya, di antara umatku ada yg menghadap pada Allah di dikala hisab & berkata Dengan-Nya, layaknya orang bicara kepada lawan bicaranya. Saya tanya kepadanya, 'dapatkah tiap-tiap orang lakukan aspek semacam itu?' Malaikat Jibril menjawab, ‘Aku bakal beritahukan kepadamu berkaitan histori tersebut sesudah mendapati izin dari Tuhanku.’


Sehingga malaikat Jibril berangkat menghilang utk sesaat, seterusnya kembali lagi sambil tersenyum & bicara, ‘Aku sudah meraih narasi yg gemilang wahai Rasulullah.’ Saya pula menanyakan faktor kisah luar biasa yg dimaksud. & malaikat Jibril hasilnya menceritakan, ‘Pertama, ketahuilah wahai Rasulullah bahwa di hri kiamat, Allah menyerahkan buku catatan amal satu orang. Ketika menyerahkan buku catatan tersebut sambil mengecek isinya, dulu Allah tanya terhadap orang tersebut, apakah benar semua amal yg tertera dalam buku catatan tersebut yaitu perbuatannya. Mendengar pertanyaan Tuhan itu, dia menjawab bahwa beliau sama sekali tak tahu bila tindakan yg tertera dalam catatan amal itu merupakan perbuatannya. Allah berfirman bahwa para malaikatlah yg mencatat semuanya. Kalaupun beliau tak merasa aspek itu yaitu perbuatannya sehingga hal itu menandakan bahwa dirinya tengah lengah & tak sadar. Kembali orang tadi menyebutkan bahwa para malaikat pencatat itu ialah hamba-hamba Allah, mereka mampu mencatat apa-apa yg dikehendaki tetapi cuma Allah-lah hakim yg tak menerima satu buah pengaduan, tidak hanya dgn bukti yg nyata. Mendengar jawban tulus Hamba-Nya ini sehingga Allah berfirman buat menanyakan siapa yg akan dijadikan saksi atas segala perbuatannya tersebut. Padahal yg mencatat amal hamba tersebut yakni malaikat yg sudah mendapat mandat dari Allah. Juga Sebagai alternatif, sehingga Allah menawari anggota badan sang hamba tersebut utk jadi saksi pada tindakan yg sudah dulu. Penawaran itu akan di terima & disetujui hamba tersebut. Sbg saksi perdana, sehingga Allah mempersilahkan pada lidah hamba itu buat jadi saksi atas segala aksi hamba itu. Tak ada yag terlewatkan laporan yg diungkapkan lidah sang hamba itu baik amal baik & amal tidak baik.

Mendengar kesaksian lidahnya, sehingga hamba itu bicara “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa lidahku yaitu musuh sewaktu hidup didunia & nyaris tentu segala dosa berjalan berawal lantaran & dikarenakan kelancangannya. Sebab Engkau merupakan hakim yg adil, sehingga pastinya tak bakal menerima kesaksian musuh pada musuhnya sendiri.”


Bersama jawaban Hamba-Nya tersebut, setelah itu Allah berfirman : “Baiklah, Saya panggil ke-2 tanganmu buat memberikan kesaksian.” Dgn izin Allah, sehingga berbicaralah ke-2 tangannya itu menceritakan segala perbuatannya tatkala di dunia. Tapi demikian selesai, orang itu terus menolak apa yg sudah dikemukakan ke-2 tangannya. Dalam pandangan ini, dgn argumen layaknya syariat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yg menyebutkan bahwa keberadaan satu saksi tidaklah mencukupi bagi diterimanya satu buah pengaduan atau pun kesaksian. Karenanya mesti ada saksi yg ke-2 utk menguatkan kesaksian yg perdana. Padahal ke-2 tangan yg memberikan kesaksian itu termasuk juga ke dalam satu saksi. Dulu Allah menerima argumen yg dikemukakan Hamba-Nya ini & selanjutnya memerintahkan ke-2 kaki orang tersebut buat memberikan kesaksian. & sama seperti terhadap kesaksian pada awal mulanya, dgn izin Allah, ke-2 kaki orang ini bicara sekaligus menceritakan segala amal perbuatannya ketika hidup di dunia

Bersama kesaksian yg diberikan oleh ke-2 kakinya, terdiamlah orang ini dgn heran sekaligus merasa takjub. Dulu dirinya menegur terhadap anggota tubuhnya yg satu per satu memberikan kesaksian, 'wahai anggota tubuhku, saya ialah anda & keberadaanmu pula adalah keberadaanku. Saya sudah membelamu supaya selamat dari api neraka, namun anda malah menjerumuskanku ke sana.' Mendengar perkataan orang ini, sehingga seluruhnya anggota tubuhnya berbicara : 'Kami diperintahkan utk memberikan kesaksian yg benar & mengucapkan kata-kata yg benar.'

Hasilnya Allah memutuskan supaya malaikat Zabaniyah menyeret orang tersebut ke dalam neraka. Setelah Itu orang ini berbicara sesudah mendengar vonis Allah : 'Dimanakah Rahmat-Mu, wahai Yg Maha Penyayang?' Allah berfirman : 'Rahmat-Ku cuma dapat diberikan pada beberapa orang yg beriman. Bila engkau ingin mengakui kesalahanmu, Saya dapat mengampuni dosa-dosamu.' Orang itu seterusnya berbicara, 'Wahai Tuhanku, saya mengaku bersalah, saya teramat takut kepada api neraka.'

Dulu Allah berfirman pada para malaikat : 'Bawalah Hamba-Ku ini ke surga, dikarenakan Saya sudah mengampuninya.' Dulu oleh malaikat beliau dipindah ke surga, & berkatalah malaikat itu kepadanya 'Masuklah anda ke surga bersama damai & aman.'
Referensi : Saifulloh & Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya : Karya Gede

Subscribe to receive free email updates:

close
==== == [Klik disini 1X] [Close] == ====